Kalau kamu sering menulis, baik itu untuk tugas kuliah, laporan kerja, atau sekadar postingan di media sosial, pasti pernah kan mengalami momen ragu-ragu ini: mengetik kata "mempengaruhi", lalu tiba-tiba otak bertanya, "Eh, ini bener gak sih? Atau harusnya 'memengaruhi'?" Jari langsung berhenti di atas keyboard, mata melirik ke Google, dan pencarian pun dimulai. Kamu nggak sendirian. Perdebatan antara "mempengaruhi" atau memengaruhi" ini adalah salah satu drama linguistik paling populer di bahasa Indonesia. Rasanya seperti memilih antara teh manis atau teh tawar—keduanya ada yang pakai, tapi mana yang lebih "resmi"? Yuk, kita telusuri sampai akar-akarnya biar nggak galau lagi setiap kali mau nulis kata ini.
Asal Usul Kata: Dari "Pengaruh" sampai ke Bentukan Katanya
Untuk memahami mana yang benar, kita harus mundur sedikit ke belakang. Kata dasarnya adalah pengaruh. Nah, dalam tata bahasa Indonesia, kita punya aturan pembentukan kata yang disebut dengan imbuhan atau afiks. Imbuhan yang kita bahas di sini adalah awalan "me-". Aturan mainnya, ketika awalan "me-" bertemu dengan kata dasar yang berawalan huruf 'k', 't', 's', 'p', sering terjadi perubahan. Ini namanya aturan luluh atau asimilasi.
Contoh gampangnya: me- + pukul = memukul (huruf 'p' luluh). me- + tapis = menapis (huruf 't' luluh). Tapi, nggak semua kata berawalan 'p' begitu lho. Ada juga yang nggak luluh, seperti me- + patuh = mematuhi (huruf 'p' bertahan). Lalu, "pengaruh" ini masuk kelompok yang mana?
Mengapa Banyak yang Menulis "Mempengaruhi"?
Kebanyakan dari kita secara naluriah menulis mempengaruhi. Alasannya sederhana: itu yang terasa enak di lidah dan paling sering kita dengar atau baca. Pengaruh (eh, baca: efek) dari kebiasaan ini sangat kuat. Dalam percakapan sehari-hari, pengucapan "mem-pen-ga-ruh-i" dengan 'p' yang terdengar jelas memang lebih dominan. Otak kita kemudian merekamnya dan menyalinnya begitu saja dalam tulisan. Selain itu, banyak juga media massa atau tulisan informal yang menggunakan "mempengaruhi", sehingga seolah-olah itu adalah bentuk yang diterima.
Keputusan Resmi dari "Pihak Berwajib" Bahasa
Nah, ini saatnya kita merujuk pada otoritas bahasa: Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kalau kamu cek KBBI daring sekarang, john-simm.org entri yang ada adalah:
- me·nge·ru·hi v memberi pengaruh; mempengaruhi (bentuk tidak baku).
Dan untuk kata kerja dasarnya:
- pe·nga·ruh n daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
Jelas sekali, kan? Bentuk bakunya adalah memengaruhi (dengan satu 'p'). Kenapa? Karena aturan "me-" + kata dasar berawalan 'p' seringnya menyebabkan 'p' itu luluh. Kata "pengaruh" dianggap mengikuti pola ini. Jadi, prosesnya: me- + pengaruh + -i = memengaruhi.
Lalu, mengapa KBBI masih mencantumkan "mempengaruhi"? Itu ditempatkan sebagai bentuk tidak baku. Artinya, penggunaannya sangat luas di masyarakat, sehingga dicatat, tetapi tetap dinyatakan bahwa bentuk yang sesuai kaidah adalah "memengaruhi".
Dilema dalam Penggunaan Sehari-hari
Ini yang bikin seru. Di satu sisi, ada aturan baku. Di sisi lain, ada kenyataan bahwa hampir semua orang, bahkan instansi terpelajar sekalipun, sering menggunakan "mempengaruhi". Kamu bisa lihat di berita-berita online, di caption Instagram, atau di dokumen-dokumen semi-formal. Penggunaan "memengaruhi" justru kadang terasa aneh atau terlalu "kaku" di mata beberapa orang. Jadi, pilihannya menjadi antara mengikuti kaidah atau mengikuti arus umum.
Tips Praktis Agar Tidak Bingung Lagi
Supaya kamu bisa memutuskan dengan percaya diri kapan pakai yang mana, coba pertimbangkan beberapa hal ini:
1. Kenali Audien dan Konteksnya
Ini kunci utama dalam menulis apapun. Kalau kamu nulis untuk keperluan yang sangat formal—seperti skripsi, tesis, makalah ilmiah, dokumen resmi perusahaan, atau artikel yang inginmu sangat patuh pada PUEBI—maka gunakanlah memengaruhi. Ini menunjukkan bahwa kamu paham kaidah dan menghormati konteks formalitas.
Sebaliknya, untuk tulisan yang sifatnya santai—blog pribadi, chat, media sosial, konten casual—penggunaan mempengaruhi bisa dimaklumi dan justru mungkin terdengar lebih natural bagi pembaca. Toh, tujuannya adalah komunikasi efektif, dan selama pesan tersampaikan, pilihan kata ini tidak akan mengganggu.
2. Uji dengan Kata Lain yang Mirip
Coba bandingkan dengan kata lain yang punya pola serupa. Misalnya:me- + pertanda = memertandai? Tidak. Yang benar adalah menandai (huruf 'p' dan 'e' di awal kata dasar hilang). Atau me- + peringati = memperingati (huruf 'p' luluh). Pola "pe-" pada awal kata dasar cenderung membuat 'p'-nya luluh ketika dapat awalan "me-". "Pengaruh" mengikuti pola "pe-" + "ngaruh", sehingga 'p'-nya luluh.
3. Konsistensi adalah Kunci
Hal yang lebih penting daripada memilih salah satu bentuk adalah bersikap konsisten dalam satu dokumen atau tulisan. Jangan di paragraf awal pakai "memengaruhi", lalu di paragraf berikutnya tiba-tiba berubah jadi "mempengaruhi". Itu akan terlihat ceroboh. Putuskan satu bentuk di awal, dan patuhi sepanjang tulisan.
Dampak Pilihan Kata terhadap Kredibilitas Tulisan
Pemilihan antara bentuk baku dan tidak baku, termasuk dalam kasus mempengaruhi atau memengaruhi, sebenarnya berbicara tentang attention to detail. Di mata pembaca yang sangat memperhatikan bahasa (seperti editor, dosen, atau klien dari bidang tertentu), penggunaan bentuk baku akan memberi nilai plus. Itu menunjukkan bahwa kamu teliti, berusaha menulis dengan benar, dan menghargai bahasa Indonesia.
Sebaliknya, di ranah yang sangat informal, penggunaan bentuk baku yang kaku kadang justru bisa menciptakan jarak. Bayangkan kamu lagi nulis caption IG yang lagi-lagi, tiba-tiba pakai kata "memengaruhi" yang jarang dipakai orang di platform itu. Bisa jadi malah terkesan terlalu sok benar. Jadi, memahami nuansa ini penting banget.
Bagaimana dengan Mesin Pencari (SEO)?
Nah, buat kamu yang menulis konten untuk web atau blog, pasti mikir: mana sih yang lebih baik untuk SEO? Apakah Google bisa membedakan? Pada dasarnya, mesin pencari seperti Google sekarang sudah cukup canggih dalam memahami maksud pengguna (user intent) dan variasi kata. Baik "mempengaruhi" maupun "memengaruhi" kemungkinan besar akan dianggap terkait dengan topik yang sama.
Tapi, dari sisi keyword targeting, kamu bisa lihat data. Coba cek dengan tools seperti Google Keyword Planner. Mana yang lebih banyak dicari orang? Faktanya, volume pencarian untuk "mempengaruhi" jauh lebih tinggi karena itulah yang umum diketik masyarakat. Jadi, jika tujuan kontenmu adalah menjangkau audien seluas mungkin dengan kata kunci yang mereka ketik, menggunakan "mempengaruhi" bisa jadi pertimbangan strategis, meskipun secara kaidah kurang tepat. Namun, konten yang berkualitas dan informatif tetaplah faktor penentu utama, bukan sekadar pilihan satu huruf 'p'.
Kesimpulan yang Tidak Perlu Diperdebatkan Lagi
Jadi, setelah kita bahas panjang lebar, jawabannya punya dua lapis:
- Secara Kaidah Bahasa Baku: Yang benar adalah MEMENGARUHI (dengan satu 'p'). Ini adalah bentuk yang diakui oleh KBBI dan PUEBI.
- Secara Penggunaan dalam Dinamika Bahasa: MEMENGARUHI (dengan dua 'p') adalah bentuk tidak baku yang penggunaannya sangat luas dan diterima dalam komunikasi tidak formal.
Jadi, pilihan akhir ada di tangan kamu sebagai penulis. Pahamilah aturannya, tetapi juga kenali medan tempat kamu menulis. Bahasa itu hidup dan dinamis. Yang terpenting adalah kita sadar akan pilihan yang kita ambil, alasan di baliknya, dan dampaknya terhadap pembaca. Sekarang, saatnya kamu yang memengaruhi (atau mempengaruhi?) pilihan bahasamu sendiri dengan penuh percaya diri. Selamat menulis!